ADA PELUANG DI SETIAP PINTU

utaminsdialy.me


ADA PELUANG DI SETIAP PINTU

Jack Ma mengingatkan bahwa tidak pernah ada peluang yang terlalu kecil, terlalu mudah, atau terlalu rendah. Ketika sebu­ ah pintu peluang terbuka, ambilah kesempatan itu. Masuk ke dalamnya dengan seluruh kekuatan yang Anda miliki, dan gunakan peluang tersebut dengan sepenuh hati. Intinya, jika Anda mengi­ nginkan hasil yang besar, jangan remehkan peluang sekecil apapun.

Setiap hari, pikiran kita terpengaruh oleh beragam dengan emo­ si, entah itu baik atau buruk. Oleh karena itu wajar saja jika muncul kekhawatiran dalam diri ketika kita hendak melakukan sesuatu yang tidak kita ketahui hasil akhirnya. Demikian pula saat melihat pintu peluang terbuka, sebagian dari kita barangkali takut untuk mema­ sukinya. Kita tak ingin melangkah keluar dari zona nyaman.

Mindset inilah yang harus kita ubah. Kita harus mulai berpikir bahwa setiap pintu yang terbuka memberikan kita sebuah permu­ laan baru. Jika kita takut, atau lebih nyaman berada di tempat kita saat ini, maka kita akan kehilangan kesempatan itu. Bertahun­tahun kemudian, dengan rasa menyesal mungkin kita akan berucap, “Coba dulu saya ambil peluang tersebut, sekarang saya pasti sudah hidup lebih baik.”

Jangan sampai Anda menjadi orang yang mengucapkan kali­ mat seperti itu. Jangan pula takut gagal sebelum memulai. Sebuah kegagalan tidak menandakan sebuah akhir. Anda akan belajar dan menjadi orang yang lebih baik melalui pengalaman, baik lewat ke­ gagalan maupun kesuksesan. Tidak ada individu yang sukses yang sampai ke tempat mereka sekarang tanpa melewati kegagalan masa lalu.

Mantan Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill, pernah tak naik kelas. Pembawa acara kelas dunia, Oprah Winfrey, dianggap tak layak tampil di TV, aktris Marilyn Monroe pernah dinilai tak cukup cantik oleh perusahaan film Columbia Pictures, dan Walt Disney di­ejek sebagai orang yang tak memiliki imajinasi. Tak satu pun dari mereka merajuk, sebaliknya mereka menyadari bahwa dunia ini le­ bih besar dari sebuah penolakan. Para orang hebat ini mengambil peluang untuk “menulis” kisah hidup mereka sendiri dan mengeks­ plorasi bakat yang tak mereka sadari.

Setiap kegagalan memang tampak seperti gunung yang sulit didaki. Namun coba bandingkan diri Anda hari ini dan setahun yang lalu, lihat semua rintangan yang telah Anda atasi. Anda hebat, bu­ kan? Jadi hargai setiap upaya, sebab tanpa kesediaan Anda untuk melangkah dari zona nyaman, maka itu sama halnya dengan mem­ batasi potensi diri sendiri.

Jack Ma tak pernah takut melangkah keluar dari zona nyaman. Sebagai pemilik layanan penerjemahan, sebenarnya usahanya sa­ ngat baik. Tak banyak orang berbahasa Inggris sebaik Jack Ma, dan hal ini yang membuat bisnis terjemahannya naik daun. Banyak sekali perusahaan pemerintah dan swasta yang membutuhkan jasanya.

Demikian pula, ketika Jack memulai Cina Pages. Website besu­ tannya ini mendatangkan keuntungan tinggi dalam tiga tahun saja. Pangsa pasarnya pun amat luas, tapi apa yang terjadi? Jack lebih suka menjual karya ciptanya ke pemerintah, lantas kembali ke kam­ pung halaman untuk memulai impian sebenarnya. Padahal saat itu ia tak memiliki modal.

Keputusan gilanya membuat Jack saat ini menjadi orang ter­ kaya di Cina dan di dunia. Tak hanya itu, Alibaba menjadi salah satu konsorsium terpenting di dunia. Sang multimiliuner tersebut tak memiliki pendidikan tinggi, meski demikian kegigihannya mengejar peluang dan mengatasi hambatan membuat dirinya disebut sebagai “The Bill Gates of Asia.”

Dengan gaya bercandanya yang khas, Jack pernah berkomentar tentang julukan tersebut. Ia mengatakan, “Saya dan Bill Gates ber­ beda. Satu­satunya kesamaan adalah kami berdua merupakan pria yang menarik.” Begitulah, Jack Ma. Pria kecil yang berpengaruh di Cina ini menjelaskan dalam setiap wawancara dan konferensi yang dihadirinya bahwa ia bukanlah orang suka yang meremehkan pelu­ ang, sekecil apapun itu.

Contohnya, ketika berusia 12 tahun, ia menawarkan diri untuk memandu para wisatawan dengan bayaran kesempatan berbicara bahasa Inggris dengan mereka. Padahal, untuk pergi ke hotel tempat para wisatawan menginap, ia harus bangun pagi­pagi dan meng­ ayuh sepeda sekitar satu jam. Menakjubkan bukan bagaimana Jack menangkap peluang sekecil itu?

Barangkali sebagian dari kita mengira Jack Ma selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Hal ini tak benar. Jack pernah mencoba masuktiga universitas bergengsi di kota asalnya Hangzhou, namun gagal. Itu belum seberapa, sebab ia juga pernah mendaftar ke Univeritas Harvard sebanyak 10 kali dan gagal 10 kali. Terdorong oleh rasa frustasi, Jack akhirnya kuliah di sebuah institut pendidikan berperingkat rendah di Hangzhou.

Setelah bergulat dengan pekerjaan­pekerjaan berpenghasilan pas­pasan, Jack Ma menemukan peluang saat diminta untuk pergi ke Amerika Serikat. Peluang emas itu bernama Internet. Ketika itu, di tahun 1994, dan internet baru mulai dipopulerkan. Jack Ma tak tahu apapun tentang komputer, dan ia bahkan tak mengerti cara meng­ gunakan keyboard. Namun satu hal yang ia yakin, bahwa sejak saat itu ia harus melakukan sesuatu berbasis internet.

Gagasannya muncul seketika. Banyak orang di Cina ingin men­ jual produk mereka ke negara­negara lain, akan tetapi mereka tak memiliki ruang untuk melakukannya. Pengusaha­pengusaha kaya memang dapat menjual produknya dalam pameran kelas dunia, na­ mun bagaimana dengan pengusaha­pengusaha kecil?

Tak ada yang bisa dilakukan oleh para pelaku usaha kecil me­ nengah kecuali mengeluh. Di sinilah, di tengah­tengah keluhan me­ reka, Jack menemukan peluang emasnya! Ia segera membentuk tim untuk membuat sebuah platform penjualan online bagi para peng­ usaha kecil dan menengah (UMKM). Apakah ia langsung mendapat dukungan?

Tidak! Hampir semua orang justru berkata, “Orang ini (Jack) gila. Gagasannya tak masuk akal dan tak akan pernah menjadi ke­ nyataan.” Dalam suasana penuh sindiran seperti itulah, Alibaba grup diciptakan. Selama tiga tahun pertama, perusahaan tersebut tak menghasilkan keuntungan satu dollar pun. Satu­satunya tujuan ada­ lah mereka mampu bertahan! Sekarang, coba lihat kronologi ini:

Tahun 1999. Jack Ma mendirikan website Alibaba.com, “sebuah portal bisnis yang menghubungkan pengusaha­pengusaha di Cina dengan di luar negeri.” (Wikipedia). Sekali lagi, Jack me­ nunjukkan kepercayaan diri yang tinggi meski pendapat tersinis mengatakan bahwa model bisnis Jack sangat buruk.

Tahun 2001. Jack Ma mencari penanam modal bernilai $3­5 juta. Tak seorang pun tertarik berinvestasi.

Tahun 2005. Jerry Yang, co­founder Yahoo! Menginvestasikan $1 milyar pada Alibaba. Sejak saat itu perusahaan tersebut tak pernah berhenti tumbuh.

Tahun 2013. Alibaba melepas saham di bursa saham Wall Stre­ et. Tindakan konglomerat Cina ini secara luar biasa meroket­ kan dirinya hingga ke angkasa dan menempatkan pria tersebut sebagai orang terkaya di Asia. Pada hari penutupan bersejarah tersebut, saham Alibaba bernilai US$231.440 juta. Sebagai per­ bandingan, Facebook bernilai US$200 juta dan Amazon bernilai US$153 juta. Nilai saham Alibaba jauh melampaui kedua raksa­ sa tersebut.

Berawal dari startup yang didirikan Jack Ma dan 17 mitranya, di sebuah apartemen kecil, dan dengan modal hanya $6000, Alibaba berubah menjadi raksasa e-commerce dengan lebih dari 3000 karyawan. Berdasarkan kalkulasi majalah bisnis internasional, Forbes, kekayaan Jack Ma mencapai $30juta.

Apakah kesuksesan Jack Ma berlanjut dengan mulus? Tidak. Se­ iring dengan bertambahnya kekayaan Jack, bertambah pula masa­ lahnya. Pada tahun 2015, pemerintah Cina memberikan pernyataan absurd bahwa “lebih dari 60% barang yang dijual di Alibaba adalah barang bajakan.”

Pernyataan ini membuat dunia terperangah. Pembajakan meru­ pakan sebuah perang yang masih terus berlangsung di dunia, dan sangat mempengaruhi kredibiltas perusahaan manapun. Untung­ nya, Jack Ma sudah terbiasa dengan kegagalan, dan entah berapa kali kegagalan yang dialaminya berakhir dengan sebuah kemenang­ an besar.

Apabila Jack Ma tahu Anda merasa gagal dalam hidup Anda, ia akan memberi saran­saran sebagai berikut.

Jika tidak menemukan pekerjaan yang cocok, ciptakanlah!

“Mengeluh tak akan mengubah apapun,” kata Jack, “Semua entreprenur sukses (Bill Gates, Warren Buffett, Jack Welch, Larry Page, Mark Zuckerberg) adalah orang­orang yang optimis dengan masa depannya. Mereka tak pernah mengeluh. Mereka selalu mencoba menyelesaikan masalah.” Oleh karena itu, jangan mengeluh tanpa ada harapan masa depan. Selalu berpikir dengan cara yang optimis.

utaminsdialy.me

0 Response to "ADA PELUANG DI SETIAP PINTU"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel